Kebun Kopi Kiwari: Budaya dan Budidaya

/ tamasya, budaya, agrikultur / lai

Udah lama banget emak lai gak nulis blog tentang jelajah santai emak, bapak, dan lentera. Kali ini emak lai akan bahas tentang penjelajahan kami ke kebun kopi. Kebun kopi di kaki gunung Manglayang diberi nama oleh ownernya adalah Kiwari Farmer. Kebun kopi yang bertajuk “Kiwari” ini emak lai duga diberi nama demikian karena kiwari yang berasal dari Bahasa sunda berarti “kekinian” kalau dalam bahasa gaul…hehehe. Bertemu dengan salah satu ownernya, kang Irfan, merupakan pertemuan yang nyeni juga…bertemu karena sama-sama mengajar pelajaran olah raga, kesenian, dan kreativitas di kampus kami, berujung dengan bertukar Instagram jualan… emak lai promo @gambaremak, dan kang Irfan mengenalkan Instagram @kiwarifarmers dan dapet oleh-oleh deh kopi Manglayang Karlina ini.

Lokasi Kebun Kopi di Manglayang

Biji kopi langsung di pohonnya

Inget banget kang Irfan bilang punya kebun kopi… wahhh emak lai berbinar langsung pengen ngajak lentera kesana. Janjian dengan kang Andri sebagai manajer operasional, emak, bapak, dan lentera naik si vespa kuning kesana. Jalannya masuk lewat Pasir Impun, lurus terus nanti ketemu sama Desa Buah Batu, disana ada SD…. Dari situ mah tinggal tanya kebun kopi yang ada luwaknya… hehee..orang sana udah hapal banget deh. Perjalanan 15 menit lah dari bawah pasir impun, jalannya sih kebilang bagus dan cukup satu mobil (sampe bingung kalau bawa mobil gimana yah kalau papasan)…heheheh… Akhirnya nemu deh plang ini. Turun kebawah kami sampai di sebuah perkebunan kopi yang mengedepankan sustainable development, animal welfare dan tentu saja community development untuk warga sekitar. Semangat tersebut yang kemudian membuat kami kagum, cerita tentang passion para pelakunya, sehingga kegiatan budidaya kopi ini lebih dari sekadar bertani, namun membentuk budaya yang baik sedari menanam biji kopi hingga uap panas menyerbakkan keharuman kopi terseduh dalam cangkir. Sebegitu romantisnya perjalanan kopi yang disajikan.

Ngborol bersama kopi kiwari

Melihat Proses Pengeringan Biji Kopi

Ketemu sama kang Ajat dan kang Andri, kami langsung diajak keliling kebun…lentera langsung nempel tuh sama kang Andri, kang Andri mah jagoan jelasinnya buat anak. Sepanjang jalan liat kebun kopi, lentera di kasih tahu proses tumbuhnya kopi dari biji di tanah sampai buah kopi warna merah siap petik. Karena langsung liat prosesnya biji kopi, lentera sampai hapal banget tuh cerita kang andri. Serunya disana ada juga saung dan kolam ikan, bisa ngadem sambil minum kopi, makan gorengan, buka bekel, dan minum teh hangat. Niis kalau kata bahasa sunda, berada di tempat yang sepi (bahkan gak ada sinyal loh)… nikmatin pemandangan hijau. Setelah liat2 kebun kopi kami diajak ke tempat memeroses kopi mulai dari dikupas, dicuci, di fermentasi, di jemur, dipisah gabahnya, sampai dipanggang dan digiling. Wihh ternyata gak semudah yang emak bayangkan. Setiap fasenya perlu tangan-tangan terampil dan butuh kesabaran. Gak semua proses pakai mesin, ada juga yang manual. Apalagi kalau ngolah biji kopi dari luwak... ternyata susah juga. Ternyata proses bikin kopi siap seduh itu adalah karya seni juga. Paling seru sih diajak liat luwak-luwak cantik. Luwak ini dijaga kesejahteraannya loh, seperti dikasih makan yang sehat, kandangnya luas, dan bersih banget (sampe takjub liat kandang bersih banget)…setiap luwak bahkan dirawat dengan baik, sampe-sampe kang Ajat kasih nama beda-beda tiap luwak sesuai kepribadiannya… keren yah…

Tera pikir Luwak itu sejenis tanaman kopi, karena itu disebut Kopi Luwak, tapi ternyata setelah melihat sosoknya, dan dijelaskan oleh Kang Irvan, Tera belajar bahawa Kopi Luwak itu adalah jenis kopi yang prosesnya melibatkan hewan Luwak ฅ( ̳͒•ಲ• ̳͒)♪.

Luwak

Gak sampai disini loh ceritanya… ternyata hasil kopi ini kemudian di kemas cantik dan di jual dipasaran… Kiwari Farmers mengajak petani kopi sekitar untuk ikut berpikir kreatif bahwa harga kopi bisa dijual dengan harga lebih mahal kalau sudah dikemas dengan baik. Nah uniknya kopi-kopi yang diproduksi gak berhenti dijual ajah… tapi mereka membuat warung kopi dengan cara jualan yang unik sesuai tagline nya “Pay as You Like". Tempatnya katanya asik banget bisa liat sunset dari warung kopi. Nanti emak lai, bapak, dan lentera harus mampir pokoknya yah… tunggu kami.

Trims Kiwari Farmers! Berbagi mengenai kegembiraan tentang kopi, semoga semangatnya bisa selalu menyala. (•̀o•́)ง Salam!

Lamunan Kopi

Migrasi ke Grav

Mari diskusi!

Blog Comments powered by Disqus.